Inilah Suara Mereka yang Menolak Dicap Preman Ibu Kota

CAFFREYFORCONGRESS – Matahari baru saja tenggelam dari titik tertinggi di Tanah Abang, Jakarta Pusat ketika Ibrahim berdiri di tepi jalan yang membelah komplek Blok F dna G. Sambil sesekali dia melambaikan tangan kepada para pengendara mobil dan motor yang lewat sembari menunjukkan di sisinya masih ada lahan kosong untuk parkir.

Menurut pengakuan Ibrahim tidak sepakat dengan pandangan orang yang mengecap tukang parkir adalah preman, Menurut dia, ia menjual jasa untuk mengamankan mobil dan motor di sebidang lahan tepi jalan dan tidak mematok harga.

“Kami ini kan menjual jasa, Juru parkir adalah sebuah jasa, bukan tindakan premanisme” begitulah ungkap Ibrahim saat ditemui oleh tim kami.

Ibrahim adalah ‘anak wilayah’ Tanah Abang. Walau dia sudah besar di pasar itu karena mengikuti kedua orang tuanya berdagang, baru beberapa tahun terakhir ini Ibrahim menjadi tukang parkir.

Ibrahim diberhentikan dari pekerjaan sebelumnya ketika pandemi Covid-19 mulai mewabah di tanah air. Dikarenakan menganggur, Ibrahim dibawah oleh kakaknya yang lebih senior di wilayah Tanah Abang.

“Para juru parkir yang megang parkiran disini adalah imbas dari efek pandemi. Masih banyak yang mengalami hal serupa, mereka putus kerja karena efek pandemi” ungkap Ibrahim.

Dalam kurun waktu 1 hari, Ibrahim cuma mampu mengantongi 50 ribu rupiah, itu adalah pendapatan bersih. Lahan parkir yang dia jaga sangatlah sempit dan digarap oleh dua orang.

Walaupun hidup di kawasan Tanah Abang, Ibrahim mengaku dia tak harus memberikan uang setoran kepada siapapun, termasuk pengelola pasar. Ia hanya memberikan uang rokok kepada kakaknya yang sudah membantunya.

“Kita ini kan dibawa sama orang, kalo ikut Ormas ya kita gak ada begituan,” ujarnya.

Ibrahim berkata orang-orang yang menjaga parkir di sekitar kawasan tersebut merupakan ‘anak wilayah’. Ini membuat tidak terjadinya gesekan antara tukang parkir dan anak wilayah dikarenakan hal tersebut sudah bisa dikondisikan.

Ia menyatakan saat ini tak ada lagi penodongan atau pemalakan di kawasan Tanah Abang karena telah diwanti-wanti oleh pesohor tanah abang seperti Haji Lulung dan lainnya agar untuk menjaga nama baik kampung situs judi slot deposit pulsa ini.

“Kecuali kalau emang buat, masih mau main begituan berarti bodoh. Sama aja mendingan masuk Polsek aja sekalian,” ujarnya.

Seperti Ibrahim, Mulyadi yang merupakan tukang parkir di sebuah minimarket di Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan juga menolak profesi mereka disebut sebagai preman, Alasan nya juga sama, yang mereka berikan adalah jasa parkir dan tak memungut uang dengan paksaan. Ia juga mengaku bekerja sebagai mitra minimarket.

Menurutnya, menjadi tukang parkir bukanlah hanya sekedar minta uang kepada pengunjung yang datang. Ia bertanggung jawab terhadap keamanan kendaraan para pengunjung. Oleh karena itu, ia harus memperhatikan apakah ada orang yang hendak mengambil motor yang diparkirkan itu benar benar menggunakan kunci.

“Jika ga pake kunci kita tegur, STNK mana?” kata mulyadi saat ditemui.

Pengelolaan lahan parkir di Alfamidi dilakukan oleh dua pihak, yaitu RT dan Ormas FBR. Dalam perjanjian yang disepakati, masing-masing mengelola parkir dalam satu hari secara bergantian.

Mulyadi mengaku mulai menjaga parkiran tersebut atas arahan Ketua RT setelah dia berhenti dari perusahaan nya akibat pandemi. Pihak RT setempat sudah menunjuk empat warganya untuk menjadi tukang parkir. Mereka bekerja dua shift yaitu shift pagi dan shift malam.

Uang parkir yang didapatkan nya disetorkan ke pihak RT 30ribu, sebanyak 20ribu menjadi uang kas dan 10ribu menjadi simpanan mulyadi untuk diambil pada hari raya. Biasanya jika shift pagi dia bisa mengantongi uang bersih 70-80ribu diluar makan kopi dan setoran.

“Sekecil-kecilnya ya 50ribu, kalau malam lagi rame bisa sampai 100,120 ribu ” Ungkapnya.