Pemerintah Indonesia Optimistis Pemulihan Ekonomi Akan Menguat di Triwulan ke-4

Indonesia optimistis pemulihan ekonomi dari pandemi COVID-19 akan menguat pada kuartal saat ini, kata kementerian keuangan Sri Mulyani dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat, setelah data kuartal ketiga lebih lemah dari perkiraan.

“Ke depan, kami berharap pemulihan ekonomi akan menguat di sisa tahun 2021, sejalan dengan situasi pandemi yang relatif lebih terkendali dan percepatan program vaksinasi,” kata Sri Mulyani seraya menambahkan optimismenya didasarkan pada peningkatan mobilitas. dan rekor indeks manajer pembelian tertinggi di bulan Oktober.

Perkembangan ekonomi Indonesia melambat lebih dari yang diharapkan pada Q3 atau kuartal ketiga karena pembatasan untuk mengendalikan gelombang mpo88 mematikan COVID-19 membebani aktivitas, meskipun data terbaru menunjukkan pertumbuhan sepertinya kembali ke jalurnya pada kuartal saat ini.

Ekonomi terbesar di Asia Tenggara itu tumbuh 3,51 persen pada kuartal Juli-September dari periode yang sama tahun lalu, di bawah ekspansi 7,07 persen pada kuartal sebelumnya, menurut data Badan Pusat Statistik.

Analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan pertumbuhan melambat menjadi 3,76 persen, sementara pejabat pemerintah memperkirakan 4,5 persen.

Indeks saham utama tergelincir menjadi 0,15 persen di perdagangan pagi setelah naik 0,3 persen pada pembukaan, sementara rupiah melemah.

Pihak berwenang di Indonesia memberlakukan pembatasan mobilitas yang ketat pada Juli hingga Agustus sebagai tanggapan atas lonjakan infeksi COVID-19.

Langkah-langkah penahanan virus menghantam konsumsi rumah tangga, yang melambat menjadi 1 persen pada kuartal ketiga dari 6 persen dalam tiga bulan sebelumnya. Konsumsi swasta menyumbang lebih dari setengah produk domestik bruto negara itu.

Ekspor memberikan kontribusi terbesar terhadap ekspansi PDB didukung oleh siklus kenaikan harga komoditas.

Namun, Menteri Keuangan Sri Mulyani sudah mengingatkan bahwa meningkatnya inflasi global, pergerakan ekonomi China dan prospek mengetatnya moneter di Amerika Serikat dan Uni Eropa bisa membuat pengaruh prospek pertumbuhan Indonesia.

Harga batu bara yang mengalami penurunan juga bisa mengurangi kontribusi ekspor pada PDB di kuartal keempat, ungkap Josua Pardede selaku ekonom Bank Permata.

“Ke depan, pertumbuhan ekonomi harus datang dari sektor swasta, mengingat pemerintah berencana mengurangi tingkat defisit fiskal,” kata Fakhrul Fulvian, ekonom pialang Jakarta Trimegah Sekuritas.

“3Q kemungkinan menandai palung untuk tahun ini, dengan pertumbuhan 4Q kemungkinan akan menguat karena beban kasus telah surut dan vaksinasi meningkat, memungkinkan pembatasan dibatalkan,” kata Radhika Rao, ekonom DBS.

Data yang lebih baru menampilkan pemulihan ekonomi sudah memperoleh momentum kembali setelah pembatasan secara bertahap tidak diperketat pada akhir Agustus, dengan indeks manajer pembelian manufaktur (PMI) pada level tertinggi sepanjang masa bulan lalu karena gangguan bisnis mereda.

Pemerintah telah mengatakan pihaknya berencana untuk mempersempit defisit anggaran menjadi 4,85 persen dari PDB pada 2022 dari sekitar 5,4 persen tahun ini.

Bank sentral juga telah mengumumkan rencana untuk melonggarkan kebijakan moneter ultra longgar dengan secara bertahap mengurangi ukuran kelebihan likuiditas dalam sistem perbankan tahun depan dan mempertimbangkan kenaikan suku bunga pada akhir 2022.

Rao dari DBS mengatakan Bank Indonesia mungkin harus memperketat kebijakan moneter lebih cepat jika Federal Reserve membebani kenaikan suku bunga AS. Sebelum rilis data, Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan PDB setahun penuh sebesar 4 persen, sedangkan perkiraan terbaru bank sentral adalah 3,5 persen hingga 4,3 persen. Ekonomi Indonesia menyusut 2,07 persen tahun lalu, kontraksi pertama sejak 1998, akibat dampak pandemi.