Indonesia Mengajak Dunia Untuk Membangun dan Menata Kembali Sistem Pendidikan

Di era modern seperti saat ini semuanya sudah serba canggih dan semua orang dipaksa untuk bisa mengikuti. Dibutuhkan sumber daya manusia yang terbaik agar tidak ketinggalan zaman. Dalam hal ini sangat penting sekali menata sistem pendidikan secara global.

Ketua kelompok pendidikan G20 Iwan Syahril mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini mengajak dunia agar mau bergotong royong dalam membangun dan menata kembali sistem pendidikan.

Adanya kelompok kerja Chair of G20 Education Working Group atau EdWG, Indonesia memimpin grakan global untuk membangun kembali sistem pendidikan.

Iwan Syahril yang menjabat juga sebagai Direktur Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan menjelaskan bahwa ada ketimpangan dalam melakukan judi bola online akses pendidikan yang berkualitas. Selain itu siswa siswa yang lulus belum memiliki kesiapan untuk memasuki dunia kerja.

Keberadaan isu tersebut sebenarnya sudah muncul dan sedang dihadapi oleh dunia selama beberapa dekade terakhir. Terlebih adanya pandemi telah memperburuk keadaan dan kesenjangan sosial ekonimo semakin terlihat.

Pandemi Merubah Minat Belajar Anak

Pandemi telah membawa dampak buruk terhadap sistem pendidikan dan sistem kerja dunia. Dalam hal ini Iwan Syahril selaku ketua kelompok pendidikan G20 mengajak dunia untuk segera bergotong royong dalam memperbaiki sistem pendidikan.

Pandemi secara langsung telah memberikan dampak untuk semua orang menyadari akan pentingnya kerjasama secara global untuk menata kembali sistem pendidikan. Tidak menunggu nanti, tapi Iwan mengajak untuk semua pihak agar segera bergerak.

Dalam kondisi seperti ini anak-anak tidak bisa terus menunggu kapan sekolah bisa dibuka lagi secara maksimal. Kalau sudah demikian, bukan lagi perkara anak tidak bisa naik kelas atau gagal dalam menjalani ujian. Dalam hal ini lebih ke perkara anak akan kehilangan kepercayaan diri dan minat dalam belajar.

Kalau minat belajar sudah hilang, nantinya akan kesulitan mencari calon pemimpin masa depan yang memiliki mimpi dan berani bercita-cita tinggi.

Pertemuan kelompok kerja Chair of G20 Education Working

Pertemuan G20 EdWG telah dilaksanakan 2 sesi. Pada sesi pertama membahas mengenai prioritas pertama yaitu mewujudkan sistem pendidikan yang berkualitas. Pada sesi kedua membahas mengenai teknologi digital yang digunakan untuk pendidikan.

Pada pertemuan tersebut para delegasi telah menyampaikan dukungannya atas prioritas agenda mewujudkan sistem pendidian yang berkualitas untuk masyarakat.

Policy officer, Directorate General for Education, Sport and Culture, Adrian Veale menyebutkan bahwa pertemuan G20 EdWG ini menjadi momen yang tepat untuk membahas ulang dalam sektor pendidikan. Dalam hal ini lebih memfokuskan pada pendekatan holistik agar tidak ada yang tertinggal.

Demi mewujudkan itu semua dibutuhkan topik solidaritas agar terbangunlah semangat gotong royong. Sehingga dibutuhkan gabungan kebijakan agar bisa eksplorasi.

EdWG sesi pertama telah dihadiri 27 delegasi secara luring yaitu delegasi Arab Saudi, Afrika Selatan, Austria, Argentina, Prancis, Spanyol, Singapura, Uni Emirat Arab, Brazil, Bank Dunia, UNICEF dan UNESCO.

Sementara 64 delegasi dari Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Jepang, Kamboja, India, Italia, Meksiko, Uni Eropa, Turki, dan OECD hadir secara daring.

Jadi dengan gotong royong semua pihak akan sadar betapa pentingnya pendidikan. Tanpa gotong royong akan sulit menyukseskan program belajar.

Iwan Syahril mengungkapkan bahwa ada empat prioritas yang akan diutamakan yaitu pendidikan yang berkualitas, digital teknologi dalam pendidikan, solidaritas dan kemitraan, serta masa depan dunia kerja setelah pancemi covid-19. Dalam hal ini dibutuhkan perubahan di dunia pendidikan sebagai solusi untuk menjawab semua tantangan dunia di masa depan. Sehingga moment ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya agar bisa memberik dampak ekonomi secara global.