Tanggapan Peneliti CSIS Sekarang Bukan Saat Tepat untuk Reshuffle Kabinet Jokowi

Reshuffle kabinet akan dilakukan oleh pemerintahan Joko Widodo dalam beberapa waktu ke depan rupanya mendapat tanggapan beragam dari publik. Banyak yang menganggap langkah ini memang perlu dilakukan mengingat kinerja para menteri saat ini yang kurang kondusif. Tetapi ada juga yang beranggapan bahwa keputusan ini bukanlan saat yang tepat. Berikut tanggapan Peneliti CSIS terhadap wacana reshuffle Kabinet tersebut.

Tanggapan Peneliti CSIS Terhadap Wacana Reshuffle Kabinet

Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS (Center for Strategic and Internasional Studies), Arya Fernandes menanggapi mengenai wacana Reshuffle kabinet tersebut. Tanggapan peneliti CSIS adalah apa yang akan dilakukan oleh presiden tersebut dianggap kurang tepat. Hal ini diungkapkan olehnya ketika ditemui di diskusi total politik di Jakarta pada hari Minggu 13/03/2022.

Langkah dan waktu yang tidak tepat

Arya berpendapat bahwa adanya wacana perombakan atau reshuffle kabinet yang diisukan akan dilakukan oleh Joko Widodo bukan merupakan judi bola online langkah yang tepat untuk diterapkan dalam waktu dekat. Keputusan untuk reshuffle hanya akan memperberat kinerja pemerintah. Sehingga perkerjaan rumah yang menumpuk tidak akan cepat terselesaikan.

Masih banyak pekerjaan rumah yang masih belum diselesaikan oleh Pemerintah

Menurut pengurus Departemen Hubungan Internal dari Persepsi (Perkumpulan Survei Opini Publik Indonesia), masih banyak PR yang harus diselesaikan oleh pemerintah. Fokus pekerjaannya juga umum di seluruh jajaran menteri Kabinet Indonesia maju. Baik agenda dari dalam negeri maupun pekerjaan yang berkaitan dengan internasional.

Belum ada kebutuhan mendesak untuk reshuffle

Arya melanjutkan pendapatnya untuk saat ini belum ada kebutuhan yang mendesak untuk melakukan reshuffle kabinet. Arya mengakui adanya kritikan terhadap performa beberapa menteri yang menurun untuk mengantisipasi berbagai persoalan krisis contohnya naiknya beberapa harga kebutuhan pokok di masyarakat.

Pemerintah harus mengembalikan kepercayaan publik

Menurut kami langkah tersebut adalah kurang tepat, seharusnya pemerintah mengembalikan kepercayaan publik terhadap pemerintahan terlebih dahulu. Karena apabila terjadi reshuffle ketika situasi di negara sedang krisis seperti sekrang ini akan menimbulkan gejolak disisi pemerintahan. Yang dikhawatirkan adalah adanya internal koalisi yang pasti terjadi.

Isu penundaan Pemilu sebagai tiket masuk reshuffle

Mengenai dukungan dari PAN dengan mendukung isu mengenai penundaan Pemilu 2024 serta perpanjangan masa jabatan Joko Widodo sebagai Presiden, Arya menganggap ini sebagai upaya untuk masuk ke kabinet. Diakuinya langkah ini memang bisa saja membuat terealisasi. Tetapi dapat dipastikan bahwa pemerintah tidak akan mungkin mengambil pilihan tersebut.

“Mungkin saja hal ini menjadi pintu masuk dan akomodasi bagi PAN. Tetapi bagi saya itu terlalu menimbulkan resiko besar untuk pemerintah di sisi internal koalisi apabila melakukan reshuffle sekarang” tegas Arya.

Kurang ada legitimasi lebih dari PAN jika masuk dalam pemerintahan

Dilihat dari sisi pemerintahan Joko Widodo sendiri, apabila PAN masuk ke kabinet saat ini tidak akan ada legitimasi lebih untuknya. Sebab Arya menganggap apabila komposisi kabinet yang telah ada untuk saat ini masih sangat kuat dalam bidang stabilitas pemerintahan internalnya.

“Sehingga apabila mendapat tambahan dukungan politik dari PAN tidak akan terlalu berarti. Mengingat diatas tujuh puluh lima persen itu sudah sepenuhnya dipegang oleh koalisi. Saya juga tidak mengerti apa saja nanti yang akan menjadi cashbask bagi PAN. Sepertinya tanggapan peneliti CSIS terhadap wacana perombakan kabinet untuk saat ini dirasa sangat kurang tepat, mengingat masih banyaknya pekerjaan rumah dari pemerintah terhadap rakyat Indonesia. Pemilihan menteri yang nantinya akan duduk di kursi pemerintahan diharapkan akan memperbaiki ekonomi Indonesia yang sedang mengalami krisis.