Survei PRC PPI: Simulasi Duet Prabowo-Anies Raih Angka Paling Tinggi

Salah satu lembaga survei yakni Politika research & Consulting (PRC) bersama dengan Parameter politik Indonesia (PPI). Telah merilis hasil survei terkait poros Parpol capres-cawapres pada Pemilu 2024 mendatang. Adi Prayitno selaku Direktur Eksekutif Parameter Politik mengungkapkan jika pihaknya telah melakukan simulasi dengan jumlah calon sebanyak 3 pasangan menggunakan tiga skema.

Hasil dari survei yang tersebut menyatakan jika pasangan Ketua Umum Partai Gerindra yakni Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Menduduki peringkat terkuat dari tiga skema tersebut.

Adapun 3 skema tersebut, yang pertama terdapat pasangan duet antara Ganjar Pranowo-Ridwan Kamil, Prabowo Subianto-Puan Maharani, dan Anies Baswedan-Agus mpo88 Harimurti Yudhoyono. D hasil tertinggi diperoleh oleh pasangan Ganjar Pranowo-Ridwan Kamil dengan angka sebanyak 32,1%. Sedangkan Prabowo Subianto-Puan Maharani mendapat 25,7%, dan untuk Anies Baswedan-Agus Harimurti Yudhoyono sebanyak 23,7%.

Untuk skema dua, duet pasangan calon diikuti oleh Ganjar Pranowo-Sandiaga Uno, Prabowo Subianto-Airlangga Hartarto, dan Anies Baswedan-AHY. Hasilnya pasangan duet dari Ganjar Pranowo-Sandiaga Uno unggul dengan angka sebanyak 36,2%. Sedangkan Prabowo-Airlangga mendapatkan angka 26,9% serta Anies Baswedan-AHY 19,1%.

 Sedangkan untuk skema yang ketiga, pasangan duit yang mengikuti adalah Prabowo Subianto-Anies Baswedan, Sandiaga-Puan Maharani, serta Airlangga Hartarto-Muhaimin Iskandar. Hasilnya, pasangan duet paling unggul dari 3 skema  simulasi tersebut diraih oleh Prabowo-Anies dengan angka 499,7%. Untuk Anies-Puan sendiri mendapatkan 20,5% dan Airlangga-Cak Imin mendapatkan 3,8%.

Ganjar tempati posisi utama elektabilitas capres, disusul Prabowo dan Anies

Selain survei terkait duet pasangan, Politika research & Consulting (PRC) bersama dengan Parameter politik Indonesia (PPI) juga melakukan survei terhadap elektabilitas capres. Dan hasilnya Gubernur Provinsi Jawa tengah yakni Ganjar Pranowo menempati posisi elektabilitas pertama. Ganjar memiliki potensial yang cukup besar menjadi calon presiden pada Pilpres 2024 mendatang dengan jumlah angka 25,5%.

Sedangkan untuk posisi kedua, elektabilitas capres dengan angka sebanyak 22,9% diraih oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Dan untuk posisi ketiga ditempati oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan angka sebanyak 12,4%.

“Pada peta elektoral ada 15 nama, dan Ganjar telah mendahului peringkat dari Prabowo, memang perlu diakui jika sebagian besar masyarakat menganggap Ganjar memang layak diajukan menjadi capres,” kata Rio Prayogo dalam keterangannya pada konferensi pers daring (27/12/2021)

Kemudian setelah Anies Baswedan, posisi keempat elektabilitas capres diraih oleh Sandiaga uno dengan jumlah angka 9,4%. Lalu untuk urutan kelima diraih oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dengan perolehan angka sebanyak 5,8%.

“Elektabilitas Sandiaga sebenarnya juga efektif, namun sebagai cawapres. Sedangkan yang lainnya bisa belajar dari Ganjar tentang bagaimana cara mendapatkan elektabilitas yang baik,” lanjut Rio.

Survei PRC PPI sendiri menggunakan metode multistage random sampling. Dimana jumlah responden yang mengikuti kurang lebih sebanyak 1.600 orang yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Responden terpilih akan diwawancarai secara tatap muka atau face to face. Pengumpulan serta pengolahan data para responden dilakukan kurang lebih selama 22 hari mulai tanggal 12 November sampai 4 Desember 2021. Sedangkan untuk significant level (tingkat kepercayaan) dari masyarakat terhadap survei ini sebanyak 95 persen dengan margin of error sebesar 2,5 persen.

Pendukung Koalisi Prabowo-Puan Minta Deklarasi Capres-Cawapres Lebih Dini

Deklarator pendukung dari poros Prabowo Subianto-Puan Maharani, yakni Andianto meminta agar Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Gerindra. Segera mengumumkan secara resmi pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Hal tersebut dilakukan demi persiapan Pemilihan Presiden atau Pilpres 2024 mendatang yang lebih matang.

Menurut Andianto, dengan dilakukannya deklarasi dari koalisi pasangan capres cawapres lebih dini akan memberikan pendidikan politik. Serta masyarakat juga memiliki waktu yang lebih luas untuk menilai, menilai, dan memutuskan. Terkait dengan mana calon pemimpin yang tepat untuk dipilih demi masa depan Indonesia.

“Kami sangat sepakat sekali jika menggunakan gagasan partai politik mpo88 atau koalisi dari partai politik untuk segera mengumumkan secara resmi terkait dengan koalisi yang dilakukan secara lebih dini,” jelas Andiant dalam keterangannya Kamis (/12/2021).
“Ini juga menjadi salah satu tradisi yang positif untuk bisa memilih pemimpin Indonesia yang lebih tepat,” lanjutnya.

Dirinya juga sudah memberikan usul kepada PDIP dan Gerindra supaya pendeklarasian Prabowo-Puan sebagai bakal capres cawapres yang akan maju di Pilpres 2024. Tidak diumumkan di menit-menit akhir Pilpres 2024, seperti halnya yang dilakukan dalam Pilpres 2019 silam. Dan usulan yang diberikan tersebut mendapatkan respon positif dari kedua belah partai.

Faktor yang mengubah peta politik
Sebelumnya, Hasan Nasbi selaku pendiri lembaga survei dan konsultan politik Cyrus Network menjelaskan apa saja faktor yang bisa mengubah peta politik di Indonesia pada Pilpres 2024. Dan salah satu faktornya adalah koalisi lebih awal yang dilakukan antar parpol serta penentuan bakal calon yang juga lebih awal.

Menurutnya saat ini, publik memang benar-benar tidak tahu siapa saja sosok yang memiliki tiket untuk maju ke Pilpres 204 mendatang. Meskipun sebelumnya sudah ada berita terkait 3 parpol besar yang berpotensi mengusung kader sendiri dan hanya butuh tambahan satu parpol. Yakni PDIP, Gerindra dan Golkar.
“Terdapat dua hal yang bisa mengubah pet survei Pilpres 2024. Jika sudah dibungkus dengan rapi maka saya yakin jika orang akan mudah melihatnya, oh inilah yang sudah punya tiket,” terang Hasan.

Sedangkan dari Ketua DPP PKS, Ali Mardani menyatakan agar semua partai politik mulai membangun koalisi dan mendeklarasikan capres-cawapres yang akan maju di Pilpres 2024 mendatang.

Dia juga berharap agar para parpol baik yang mengusung bakal calon dari internal maupun secara koalisi tidak mendeklarasikan yang hendak diusung di waktu-waktu akhir. Terlebih ketika sudah menjelang penutupan pendaftaran seperti halnya yang sudah terjadi selama ini.

Jazilul Fawaid selaku Waketum dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) juga menyepakati terkait usul agar para koalisi parpol yang mengusung capres-cawapres mengumumkannya sejak dini. Dengan begitu masyarakat ibaratnya tidak membeli kancing dalam karung pada Pilpres 2024 mendatang. Ia juga meminta agar para kandidat tidak bersikap malu-malu.

Namun beberapa pernyataan di atas tidak senada dengan salah satu politikus PDIP yakni Hendrawan Supratikno. Dirinya tidak mau melakukan deklarasi terkait pasangan capres-cawapres yang akan maju di Pilpres 2024 dilakukan lebih dini. Menurutnya kontestasi penyelenggaraan Pilpres 2024 masih jauh dan saat ini kepemimpinan kedua era Jokowi masih baru akan memasuki tahun ketiga.

“Untuk apa mendeklarasikan lebih awal. toh saat ini kepemimpinan Pak Jokowi periode kedua masih akan memasuki tahun ketiga. Bahkan awal tahun depan masih akselerasi pemulihan pasca pandemic dan juga penyelenggaraan pemilu masih lama,” ungkap Hendrawan.