Celeng Vs Banteng, Sinisme Politik Terbaru Jelang Pilpres 2024

Meski masih akan diselenggarakan 3 tahun lagi, pemberitaan mengenai Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang sudah banyak dibincangkan. Hal ini dapat diketahui di masyarakat yang semakin hangat saja berbicara mengenai Pilpres yang akan datang tersebut. Tak terkecuali di wilayah Jawa tengah, bahkan Ganjar Pranowo yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Jateng terus mendapatkan dukungan. para simpatisan Ganjar mendukung penuh agar dirinya mencalonkan diri sebagai presiden.

Tak berbeda jauh dengan pilpres yang digelar 2014 lalu, kini seiring dengan pembicaraan mengenai Pilpres 2024 yang menghangat juga memunculkan Sinisme politik. Jika pada tahun 2014 ada sebutan Cebong vs kampret, maka jelang Pilpres 2024 ini muncul istilah Celeng vs Banteng.

Namun sinisme politik baru yang muncul jelas Pilpres 2024 ini berbeda dengan sebelumnya. Jika dulu Cebong vs kampret merujuk pada dua calon atau dua kubu yang berbeda karena persaingan. Maka Celeng vs Banteng ini justru muncul ditengah-tengah polemik yang sedang terjadi slot online maha168 di internal partai PDIP. Bahkan tidak hanya sebutan Celeng saja, sebutan bebek juga muncul akibat dari pendeklarasian dukungan kepada Gubernur Jawa tengah tersebut. Beberapa simpatisan PDIP memberikan dukungan tersendiri kepada ganjar untuk maju pada Pilpres 2024 mendatang.

Diketahui istilah tersebut pertama kali muncul dari Bambang wuryanto selaku ketua DPD PDIP Jawa Tengah. Dirinya mengatakan jika simpatisan atau pendukung Ganjar bukan bernama banteng, tetapi celeng.

Masalah tersebut selanjutnya ditanggapi oleh para simpatisan yang lain seperti Albertus Sumbogo, Wakil Ketua DPC PDIP Purworejo dengan perlawanan. Dengan adanya sebutan celeng, justru membuat semangat mereka lebih terbakar lagi untuk melakukan perlawanan serta berjuang mempertahankan kebenaran sesuai dengan nurani yang diyakini.

“Teman-teman yang sudah membuat meme tersebut tidak hanya tersinggung namun juga merasa prihatin, tetapi juga tetap ada semangat untuk melakukan perlawanan. Meskipun dianggap dengan sebutan celeng, namun harus tetap berjuang untuk kebenaran faktanya dan nurani,” jelas Sumbogo pada Selasa (12/10/2021).

Para simpaisan yang menyebutnya sebagai Barisan Celeng Berjuang tersebut juga membuat sebuah logo beruga gambar celeng warna merah dengan taring putih. Logo tersebut dibuat oleh Eko Lephex dan menjadi simbol serta semangat perjuangan dalam membela kebenaran.

“Barisan celeng adalah kita sebagai kader-kader dari PDIP yang akan berjuang demi membela kebenaran agar partai bisa semakin besar dengan mengusung Ganjar Pranowo untuk maju ke Pilpres 2024,” jelas Eko.

Taring panjang warna putih pada logo tersebut menggambarkan semangat perjangan yang tanpa kenal takut. Sedangkan warna merah mewakili rasa keberanian untuk memperjuangkan kebenaran. Dan warna putih menunjukkan kebenaran hati nurani.

Sinisme politik Cebong vs Kampret

Polemik yang menggunakan nama hewan menjelang pilpres memang bukan hal yang pertama kali terjadi. Sebelumnya pada pilpre tahun 2014 bentuk sinisme politik seperti ini sudah pernah terjadi, bahkan setelah Pilpres 2014 selesai digelar, sebutan cebong vs kampret justru semakin marak dibicarakan.

Kala itu Cebongers merupakan julukan yang diberikan kepada simpatisan Jokowi, sedangkan kampret menjadi sebutan untuk orang-orang yang pro dengan Prabowo. Sinisme politik merebut kembali memanas dan meruncing ketika memasuki Pilpres 2019. Akhirnya popularitas sinisme politik antara cebong vs kampret terus ada sampai saat ini karena media sosial yang terus membuat suasana politik semakin hangat. Akibatnya sinisme politik tersebut ada sebagai bentuk dari ekspresi fanatik pada politik hingga sekarang.

Pakar UGM Menyebutkan Kans Ganjar untuk Maju Pilpres Belum Tertutup meski Adanya Sanksi Partai

caffreyforcongress.org – Pakar politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Wawan Masudi menyebut kesempatan Ganjar Pranowo untuk maju sebagai calon presiden (capres) 2024 tidak serta-merta hilang begitu saja setelah ancaman sanksi yang akan diberikan oleh internal PDIP. Mengingat mengenai konstelasi politik untuk pemilihan umum presiden boleh dikatakan masih lama.

“Saya mengira iya (kans Ganjar masih ada). Ini kan juga proses politiknya masih panjang ya dan partai politik terhadap akhirnya tak sekedar mereka bergantung terhadap pertimbangan-pertimbangan internal tersedia pertimbangan ideologis juga,” kata Wawan waktu dihubungi wartawan, Senin (20/9/2021).

Ia menilai, partai politik akan memperhitungkan juga sejumlah aspek lainnya. Terlebih di dalam ajang penentuan orang nomer satu di Indonesia.

“Pada akhirnya mereka atau partai politik akan memperhitungkan juga apa yang disebut sebagai aspek-aspek popularitas atau stabilitas berasal dari para kandidat” terangnya.

Hal itu juga terkait bersama dengan sanksi yang hakal diberikan kepada PDIP kepada Ganjar nantinya. Dekan Fisipol UGM itu menjelaskan seluruh mungkin masih selamanya akan terbuka.

Menurutnya kalau sebenarnya hasil klarifikasi Ganjar itu dianggap memuaskan oleh internal partai maka mampu saja tidak akan tersedia sanksi. Jadi kebijakan itu sebenarnya akan tergoda oleh hasil klarifikasi pada ke dua belah pihak.

“Kalau hasil pemanggilan (internal PDIP) mengganggap pak Ganjar sebenarnya melakukan langkah-langkah politik di luar kebijakan partai ya jelas Pak Ganjar akan meraih slotmaha168 peringatan atau apa seperti itu. Tinggal nanti titik pertemuan pada kandidat dan partai akan seperti apa,” tuturnya.

Ditanya berkenaan mungkin tertutupnya kans Ganjar maju Pilpres akan merugikan bagi PDIP, Wawan menyebut bahwa PDIP sendiri merupakan partai yang punyai struktur organisasi hingga tingkat bawah yang amat kuat.

“Jadi tidak, sebenarnya tersedia peran tokoh peran sosok di PDIP, di dalam konteks ini ketua lazim Bu Mega ya tapi terhadap waktu yang seiring PDIP ini partai yang punyai semacam jejaring hingga tingkat bawah yang juga amat kuat bersama dengan organisasi partai yang juga amat disiplin,” ucapnya.

Sehingga ia menilai di dalam konteks kesolidan atau solidaritas partai maupun nanti popularitas partai. Khususnya untuk penentuan legislatif kelak itu tidak akan jadi masalah barang siapa yang akan dicalonkan.

Namun, Wawan tidak memungkiri bahwa Pilpres adalah ajang yang tidak sama bersama dengan Pileg. Logika politik di di dalam konstelasi politik itu punyai perbedaan masing-masing.

Pilpres sendiri akan amat ditentukan oleh sosok. Sehingga bukan jadi jaminan contoh partai yang dapat dukungan di dalam legislatif itu kuat lantas calonnya mampu menang.

Sehingga kalau dilihat di dalam konteks khususnya untuk legislatif maka tidak akan tersedia persoalan. Tetapi kalau lihat konteks Pilpres maka mampu jadi partai wajib berjuang lebih keras kalau tidak tidak mencalonkan sosok yang popularitas dan akseptabilitasnya cukup kuat.

“Tapi kan ini belum jelas ya kami karena masih lama ya. Kalau untuk jangka pendek sekarang ini ngga akan tersedia kerugian apa pun berasal dari PDIP dikala tersedia ancaman soal sanksi dan lain-lain. Karena tidak tersedia event politik yang terkait bersama dengan proses elektoral yang terdekat,” tandasnya.

Diketahui bahwa nama Ganjar Pranowo makin lama terdengar untuk dijagokan maju di dalam Pilpres 2024 mendatang. Terbukti berasal dari makin lama masifnya deklarasi perlindungan untuk Gubernur Jawa Tengah tersebut.

Namun di sisi lain internal PDIP lantas juga tidak tinggal diam. Bahkan partai berlambang banteng itu akan memberi tambahan sanksi kepada kadernya yang dapat dukungan maju Pilpres sebelum meraih ketetapan berasal dari Ketua Umum PDIP.

Sumber https://jogja.suara.com