Hasto: Ganjar Pranowo Tidak Mungkin Pindah Parpol

Sebagaimana diketahui, Ujang Komarudin, selaku Pengamat Politik dari Universitas Al-Azhar sedianya menilai. Bahwasanya PDI-P (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) sedang berupaya untuk menjaga soliditas internal partai. Berita ini berkembang setelah adanya kabar yang beredar terkait polemik pencalonan Pilpres tahun 2024. Penilaian tersebut muncul ketika Hasto Kristiyanto sebagai Sekjen (Sekretaris Jenderal) PDI-P menyinggung soal Ganjar Pranowo.

Sedianya Hasto mengungkapkan bahwasanya politisi PDI-P yang saat ini masih menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah tersebut. Tidak tertarik untuk pindah parpol, meski pun sudah ada beberapa tawaran menari dari parpol lainnya. Terkait pencalonan Pemilihan Presiden tahun 2024. Memang hingga sekarang, antara Ganjar dengan  PDI-P masih menjaga hati dan diri. Yang jelas masih tetap saling menghormati antara satu sama lainnya.

Memang hal tersebut merupakan sebuah trik yang dilakukan oleh Ganjar dan PDI-P. Supaya tidak adanya kendala yang bergejolak di dalam tubuh PDI-P. Sementara menurut sudut pandang Ujang, yang disampaikan mpo88 oleh Sekjen PDI-P tersebut merupakan hal yang biasa dalam berpolitik. Dengan tujuan, supaya publik melihat bahwasanya internal PDI-P kondisinya baik-baik saja. Meskipun sedang ada gejala polemik yang terjadi secara internalnya.

Adanya Trik Yang Diperagakan Ganjar Pranowo Dengan PDI-P

Fenoma yang terjadi dalam parpol untuk menjaga soliditas sudah sering terjadi. Dan fenomena kali ini terjadi antara Ganjar Pranowo dengan PDI-P. Memang trik tersebut diperagakan oleh Ganjar maupun PDI-P, supaya internal PDI-P tetap adem ayem dan tidak terjadi keributan. Akan tetapi menurut Ujang, ungkapan dari Hasto tersebut memang sebuah strategi penting PDI-P. Supaya Ganjar tidak pindal ke parpol lainnya, dengan kata lain mengunci Ganjar untuk tetap menjadi Politikus PDI-P.

Karena hingga sekarang ini diketahui belum ada parpol yang mengusung Ganjar untuk maju ke Pilpres 2024. Dari pihak PDI-P sendiri memang belum ada kabar untuk mengusung kembali Ganjar. Dari pihak Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarno Putri, belum ada mandat atau perintah sama sekali untuk Ganjar. Akan tetapi dari kubu PDI-P sendiri pastinya mempertimbangkan elektabilitasnya. Yang mana terhitung tinggi dari sejumlah hasil yang dilakukan melalui survey nasional.

Menurut Ujang sendiri, jika PDI-P masih pasif belum ada tanda-tanda dukungannya kepada Ganjar. Dan padahal elektabilitas Ganjar sendiri tinggi di tingkat nasional. Pastinya Ganjar bisa berpindah parpol, memang untuk sekarang belum ada tanda-tanda mengenai hal itu. Namun yang namanya politik semua bisa berubah, untuk kelanjutannya pasti tidak tahu. Memang dalam waktu dekat, Ganjar masih bertahan di PDI-P.

Jika memang Ganjar Pranowo menghendaki untuk pindah Parpol lain. Ujang memprediksikan bahwasanya Ganjar bisa saja melakukannya pada waktu menjelang pendaftaran capres dan cawapres di KPU (Komisi Pemilihan Umum). Namun Ujang menilai dengan adanya potensi permasalahan yang terjadi di internal PDI-P. Hal tersebut pasti dimanfaatkan oleh Ganjar jika benar-benar hendak beralih ke parpol lainnya. Tentu saja untuk pencalonan pilpres 2024.

Memang sebelumnya diberitakan, pihak Sekjen PDI-P mengklaim bahwasanya Ganjar sama sekali tidak tertarik adanya tawaran dari parpol lain, salah satunya dari Partai Golkar. Beberapa kali dari parpol Golkar sudah melakukan penawaran kepada pihak Ganjar. Pastinya tawaran untuk bisa bergabung menjadi politisi di partai Golkar. Dan sekaligus menjadi calon Pilpres 2024 wakil dari partai Golkar. Adanya tawaran yang dilakukan oleh partai Golkar terhadap Ganjar Pranowo tersebut diketahui oleh Sekjen PDI-P, Hasto Kristiyanto. Dari keterangan Hasto sendiri, partai Golkar membuka sebuah peluang . Untuk bisa mencalonkan Ganjar bilamana tidak jadi diusung oleh PDI-P.

Golkar Dan Nasdem Berkoalisi Di Pilpres 2024, Begini Tanggapan Pdip

Salah satu politikus dari PDI Perjuangan Hendrawan Supratikno memberikan tanggapannya terkait kemungkinan yang dihadapi atas bersatunya Golkar-Nasdem pada Pilpres mendatang. Hendrawan mengungkapkan jika dari pihak internal tidak ingin berspekulasi atas hal tersebut.

Karena koalisi pada Pemilu Pilpres tahun 2024 masih cukup jauh, untuk saat ini belum ada urgensi khusus guna membahasnya.

“Jadi saat ini kita tidak boleh menempatkan diri sebagai pengamat. Terkait persoalan koalisi Pilpres yang waktunya masih beberapa tahun lagi, tidak ada urgensinya juga jika saat ini mengulasnya,” ungkap Hermawan pada Kamis (4/11/2021).

 Hendrawan juga mengatakan bahwa para kader PDIP tidak boleh berfikiran dan berspekulasi lebih jauh terkait politik, semuanya mpo88 harus mematuhi aturan yang sudah dibuat partaid dengan disiplin.

“Kami dan semua kader partai harus patuh serta disiplin terhadap asas, dan hanya boleh berbicara sesuai dengan apa yang diputuskan partai,” lanjutnya.

Mindo Sianipar selaku Ketua DPP PDIP mengungkapkan bahwa selama Megawati sebagai Ketua Umum belum memberikan keputusan terkait capres maupun arahan koalisi. Para kader partai akan tetap tertib.

“Kita akan selalu tertib terkait hal tersebut,” ujar Mindo.

Menurutnya, koalisi terkait Pilpres 2024 masih cukuplah jauh, dan saat ini setiap parpol sedang melakukan konsolidasi.

“Masih jauh dan biarkan setiap parpol melakukan konsolidasi ke rakyat dan apa yang harus dilakukan,” lanjut anggota DPR RI ini.

Sedangkan persoalan sekelompok orang yang mendeklarasikan dukungan pada Prabowo-Puan pada Pilpres 2024 juga sepenuhnya diserahkan kepada Ketua Umum partai.

“Sudah diamanatkan pada kongres partai, jika yang berhak menyampaikan hal tersebut adalah ketua umum,” lanjutnya.

Mindo mengatakan jika PDIP berbeda dengan parpol lainnya, selama Megawati belum menetapkan dan memberi perintah maka seluruh kadernya tidak boleh bertingkah.

” PDIP berbeda dengan partai-partai politik lainnya, di kongres partai yang terakhir ditekankan jika tidak boleh riweuh dan semuanya harus diserahkan kepada yang berwenang, yakni ketua umum. Sebagai anggota DPR kami hanya disuruh untuk menunggu dan mengamankan daerah pilihan serta berikan yang terbaik untuk daerah pilihan tersebut demi rakyat,” lanjutnya lagi.

Kemunculan 2 poros menjelang kontestasi Pilpres 2024

Sebelumnya, salah satu pengamat politik di Indonesia yakni Gun-Gun Heryanto mengamati jika nantinya akan ada tiga poros dalam Pilpres 2024. Diantaranya yakni PDIP-Gerindra vs Golkar-Nasdem.

Dia mengatakan jika para actor parpol sudah melakukan pergerakan  yang memiliki kecenderungan pada tiga poros tersebut. Poros pertama disiapkan oleh PDIP-Gerindra, yang kedua dari Golkar, PKS, Nasdem serta poros terakhir dari PAN, PKB, Demokrat dan beberapa partai menengah yang lain.

Dikatakan juga bahwa poros pertama kemungkinan akan mengusung capres Prabowo Subianto bersama Puan Maharani sebagai capre-cawapres.

“Dari segi chemistry bisa dilihat jika tidak ada problem antara Mega dengan Prabowo. Sedangkan poros kedua, Golkar dengan Nasdem, yang mengusung Airlangga Hartanto  sebagai bakal calon baik nantinya akan menjadi capres ataupun cawapres.” terang Gun-Gun.

Airlangga Hartanto nantinya dapat dipasangakan bersama beberapa kepala daerah yang nilai kepopulerannya cukup tinggi. Misalnya Ganjar Pranowo, Anies Baswedan dan Ridwan Kamil.

“Hal tersebut bisa menjadi pertmbangan bagi poros kedua. Sebab masih terdapat kemungkinan membutuhkan satu partai lagi, yakni PKS. Oleh karena itu, kalau dilihat masih ada komunikasi intens namun dinamis,” lanjutnya lagi.

Sedangkan untuk poros ketiga yang diduduki oleh partai menengah membutuhkan sosok yang bisa diterima dan tentunya kuat. “Yang terpenting adalah skema dari setiap parpol, keuntungan untuk bisa melanjutkan kekuasaan selanjutnya,” tambahnya lagi.